Rabu, 18 Mei 2011

LALAI dan KUFUR

Allah S.W.T berfirman : Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. [ Al-A’Raaf : 179 ]

Allah S.W.T mencipta dan menjadikan isi Neraka Jahannam itu daripada kalangan Jin dan Manusia disebabkan amalan mereka di dunia. Tidaklah Allah S.W.T mencipta Makhluknya melainkan ia tahu apa yang akan mereka lakukan. Yang mana diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr bin Al-Ash,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ،

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr bin Al-Ash beliau berkata, Aku mendengar Rasulullah S.A.W bersabda : Allah S.W.T telah menetukan takdir bagi semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah S.W.T mencipta langit dan bumi. Rasulullah S.A.W menambah’ dan Arsy Allah S.W.T itu berada di atas air. [ Hr Muslim : 2653 Kitab Tentang Takdir ]

Firman-Nya : mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).

Maksudnya : mereka tidak mengunakan sedikitpun dari anggota tubuh ini yang dijadikan oleh Allah S.W.T sebagai sebab untuk mendapatkan hidayah. Sepertimana Firman Allah S.W.T :

Dan Sesungguhnya kami Telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan kami Telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka Telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. [ Al-AhQaf : 26 ]

Dan firman Allah S.W.T : Mereka tuli, bisu dan buta[1], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), [ Al-Baqarah : 18 ]

[1] walaupun pancaindera mereka sihat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh Karena tidak dapat menerima kebenaran.

Madsudnya : Hal ini berkaitan dengan kaum munafik [ Ibnu Kahsir ] manakala firman Allah S.W.T mengenai kaum Kafir :

Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja[1]. mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. [ Al-Baqarah : 171 ]

[1] dalam ayat Ini orang kafir disamakan dengan binatang yang tidak mengerti arti panggilan penggembalanya.

Maksudnya : mereka tidak menjadi tuli, bisu dan buta melainkan terhadap hidayah Allah S.W.T sepertimana firman Allah S.W.T :

Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. dan Jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, nescaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). [ Al-Anfaal : 23 ] dan Allah S.W.T berfirman :

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. [ Al-Hajj : 46 ] dan firman-Nya juga :

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahawa mereka mendapat petunjuk. [ Az-Zukhruf : 36-37 ]

Dan ayat : mereka itu seperti binatang ternak [ Al-Araaf : 179 ]

maksudnya : orang-orang yang tidak mendengar kebenaran dan tidak memahaminya, dan tidak pula melihat petunjuk. Mereka ialah seperti binatang ternak yang tidak memanfaatkan berbagai inderanya. Kecuali untuk sesuatu yang dapat mengenyangkan dalam hal kehidupan di dunia. [ Ibnu Kahsir ] sepertimana firmannya :

Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. [ Al-Baqarah : 171 ]

Maksudnya : perumpamaan orang-orang kafir ketika mereka diseru kepada keimanan ialah seperti binatang ternak. Ketika dipanggil oleh pengambalanya. ia tidak mendengar kecuali suaranya sahaja, ia tidak faham dengan apa yang dikatakannya. Oleh sebab itu, Allah S.W.T berfirman : bahkan mereka lebih sesat lagi [Al-Araaf : 179 ]

Oleh sebab itu, sesiapa yang di antara manusia yang mentaati Allah S.W.T maka ia lebih mulia ketika ditimbang di akhirat kelak, sebaliknya siapa yang kafir kepada-Nya maka binatang ternak lebih sempurna daripadanya. Kerana itu Allah berfirman : mereka itu seperti binatang ternak. Bahkan mereka lebih sesat lagi. Maka itulah orang-orang yang LALAI, [ Al-Araaf : 179 ] Allah Maha Mengetahui…..

Isnin, 25 April 2011

Bertanyalah......

Abdullah bin Abbas berkata, “ Aku pernah bertanya kepada 30 sahabat Nabi S.A.W tentang satu masalah sahaja ” [ Siyar Rul Aklam An-Nubala ]
Allah S.W.T berfirman,
Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[1] jika kamu tidak mengetahui [ Surah An-Nahl : 43 ]
[1]  Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab.
Bertanya ialah amalan yang sangat mulia disis islam. Ini kerana, tanpa bertanyakan tentang sesuatu kita tidak mungkin akan memperolehi maklumat yang dituntut oleh islam. Justeru, islam tidak benarkan apa-apa sahaja yang kita tidak perolehi maklumat tentang sesuatu perkara. islam larang sama sekali untuk kita ikutinya, seperti mana Firman Allah S.W.T,
Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. [ Surah Al-Israa : 36 ]
Dan Allah S.W.T berfirman :
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya[2] dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku,Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya[3]. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal. [ Az-Zumar : 17-18 ]
[2]  Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain Allah s.w.t.
[3]  maksudnya ialah mereka yang mendengarkan ajaran-ajaran Al-Quran dan ajaran-ajaran yang lain, tetapi yang diikutinya ialah ajaran-ajaran Al-Quran Karana ia adalah yang paling baik.
Oleh sebab itu, bertanyalah dan bertanyalah…………

Sabtu, 23 April 2011

Khamis, 3 Mac 2011

" Aku Mencintaimu Kerana Allah "

Firman Allah S.W.T :

Maksudnya :

Iaitu ketika kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, iaitu: "Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, Kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), Maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. dan Aku Telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariku dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasanku, [ Surah Al-Fathir : 38-39 ]

Syarahan Ayat :

Salamah bin Kuhail mengatakan, Maksudnya : Aku menjadikanmu dicintai oleh hamba-hambaku, Abu Imran Al-Jauni mengatakan : Musa a.s diasuh dengan pengawasan Allah S.W.T, dalam ayat ini juga bermaksud fitrah yang Allah S.W.T berikan adalah kasih sayang sesama manusia. Seperti mana yang diriwayatkan,
Daripada Az-Zuhri Sa’id bin Al-Musayyab mengkhabarkan kepada kami. Sesungguhnya Abi Hurairah RA berkata : Aku mendengar Rasulullah S.A.W bersabda : Allah S.W.T menjadikan kasih sayang itu seratus bahagian. Dia menahan di sisiNya sembilan puluh sembilan bahagian dan menurunkan satu bahagian di bumi. Daripada satu bahagian itulah makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya dari anaknya kerana khuwatir menimpanya. [ Hr Bukhari ]

Syarahan Hadith :

Kata Imam Al-Qurtubi : Allah S.W.T mengetahui bermacam-macam nikmat yang Dia berikan kepada ciptaanNya sebanyak seratus macam. Lalu dia melimpahkan kepada mereka di dunia ini satu macam daripada kasih sayang itu dan dengan kasih sayang ini tercapailah kemaslahatan hidup. Inilah yang diisyaratkan. FirmanNya : dan dia maha penyayang kepada orang-orang yang beriman,[ Surah Al-Ahzab : 43 ] Dalam hadith lain yang mana diriwayatkan,
Daripada Anas RA daripada Nabi S.A.W beliau bersabda : Tidak sempurna keimanan seseorang dikalangan kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti mana ia mencintai dirinya sendiri, [ Hr Bukhari ]

Syarahan Hadith :

Imam An-Nawawi berkata : Cinta adalah kecenderungan terhadap
sesuatu yang diinginkan. Sesuatu yang dicintai tersebut dapat berupa sesuatu yang dapat dilihat seperti bentuk atau dapat juga berupa perbuatan seperti kesempurnaan, keutamaan, mengambil manfaat atau menolak bahaya. Kecenderungan di sini bersifat Ikhtiar (kebebasan) bukan bersifat alami atau paksaan. Oleh yang demikian itu, keutamaan menyayangi sesama saudara adalah perkara yang utama dalam islam dan mencintai Rasulullah S.A.W lebih dari yang lain adalah kesempurnaan iman. sepertimana yang diriwayatkan,

Daripada Abi Hurairah RA bahawa Rasulullah S.A.W bersabda : Demi jiwaku yang berada di tangannya tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian sehingga ia lebih mencintai aku dari pada kedua orang tuanya dan anaknya, [ Hr Bukhari ]

Syarahan Hadith :

Mencintai Rasulullah S.A.W adalah lebih utama daripada yang lain walaupun sebenarnya mencintai semua utusan Allah S.W.T adalah sebahagian daripada iman. Tetapi kecintaan yang paling besar dikhususkan untuk Nabi Muhammad S.A.W. Dalam hadith lain, sepertimana yang diriwayatkan,

Daripada Anas ia berkata Nabi S.A.W bersabda : Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sehingga ia mencintai aku lebih daripada kedua orang tuanya, anaknya dan semua manusia, [ Hr Bukhari ]

Syarahan Hadith :

Imam Al-Qurtubi berkata : Setiap orang yang beriman kepada Nabi Muhammad S.A.W dengan sebenar-benarnya iman, maka dirinya tidak akan pernah hampa dari rasa cinta kepadanya meskipun kecintaan mereka itu berbeza-beza, sebahagian mereka ada yang cintanya kepada Rasulullah S.A.W telah mencapai tingkat yang tinggi dan sebahagian yang lain hanya mencapai tingkat yang rendah, tetapi sebahagian besar mereka jika disebut nama Rasulullah S.A.W maka hasrat mereka untuk melihatnya sangat besar kerana menurut mereka melihat beliau sangat berpengaruh terhadap diri, keluarga, anak-anak, harta dan orang tua mereka, maka tidak jarang kita melihat sebahagian mereka yang mengeluarkan tenaga harta dan kemampuannya untuk menziarahi ke makam Rasulullah S.A.W dan melihat tempat-tempat bersejarah, ini kerana kecintaan seseorang itu lebih daripada segala-galanya. Begitu juga Nabi S.A.W mencintai sahabatnya. sepertimana yang diriwayatkan,

Daripada Ibnu Umar RA beliau berkata Rasulullah S.A.W pernah mengutuskan suatu pasukan dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpinnya, lalu sebahagian orang mengkritik kepimpinannya, Maka Rasulullah S.A.W berdiri lalu bersabda : Jika kalian mengkritik kepimpinannya, bermakna kalian telah mengkritik kepimpinan ayahnya sebelumnya. Demi Allah, sungguh dia (ayahnya) sangat layak untuk memimpin dia termasuk orang yang paling aku cintai dan sungguh (Usamah bin Zaid) ini juga termasuk orang-orang yang paling aku cintai setelahnya, [ Hr Bukhari ]

Syarahan Hadith :

Nabi S.A.W adalah utusan Allah S.W.T buat seluruh alam untuk menyampaikan agama Allah yang agong, oleh sebab itu, tidak berkecuali Nabi S.A.W mempunyai sifat kasih sayang terhadap sahabat-sahabatnya dan semua manusia. begitu juga sahabat-sahabat Rasulullah S.A.W sangat mencintai beliau, yang mana diriwayatkan daripada abdullah bin hisyam ia berkata, kami sedang bersama Nabi S.A.W ketika beliau memegang tangan Umar bin Al-Khatab. lalu umar berkata kepada beliau : wahai Rasulullah S.A.W sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku. Nabi S.A.W bersabda kepadanya : tidak’ demi zhat yang jiwaku berada di tangannya, sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri. maka umar berkata, maka sekarang sudah begitu, sungguh engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri. maka Nabi S.A.W bersabda : kini (engkau sudah tahu) wahai umar”. [ Hr Bukhari ] Dalam hadith lain yang mana diriwayatkan,
Daripada Anas bin Malik bahawa seorang wanita dari golongan Ansar menemui Nabi S.A.W bersama anak-anaknya. Lalu Nabi S.A.W bersabda, Demi Zhat yang jiwaku berada di tangannya sungguh kalian adalah manusia yang paling aku cintai” beliau mengucapkannya tiga kali, [ Hr Bukhari ]

Syarahan Hadith :

Dalam hadis ini menunjukan bahawa Nabi S.A.W saling menyayangi sesama manusia baik sahabat menyayangi beliau mahupun beliau menyayangi sahabat-sahabat beliau. pada masa yang sama, hadith ini juga menunjukan tentang kecintaan manusia adalah fitrah dan hadith ini termasuk dalam pembahasan keutamaan kaum ansar, dalam penelitian hadis ini walaupun ia termasuk bab sumpah tetapi saya lebih cenderung untuk menerangkan tentang kasih sayang sahaja untuk bab sumpah dan keutamaan kaum ansar saya akan bahaskannya pada bab yang lain. Dalam hadith lain yang mana diriwayatkan,

Daripada Miqdam bin Ma’di Karib daripada Nabi S.A.W beliau bersabda : Jika seseorang mencintai saudaranya (sesama islam) maka hendaklah ia memberitahunya bahawa ia mencintainya, [ Hr Abu Daud Sahih ]

Syarahan Hadith :

Kejujuran untuk memaklumkan perkara yang sebenar adalah perkara yang baik. Yang mana Nabi S.A.W menyuruh untuk memaklumkan kepada saudara sesama islam yang lain apabila ia mencintai seseorang itu. Ini kerana Nabi S.A.W juga memaklum kepada kaum ansar dengan sedemikian rupa. Maka mengucapkan kata kasih sayang diantara manusia itu adalah sunnah Nabi S.A.W. Dalam hadith lain yang mana diriwayatkan,

Daripada Anas bin Malik bahawa seorang lelaki berada di sisi Nabi S.A.W, maka seorang lelaki (lain) melintasinya dan ia berkata, Wahai Rasulullah S.A.W sesungguhnya aku mencintai orang ini. Maka Nabi S.A.W bertanya, apakah engkau telah memberitahunya? Ia menjawab, belum. Lalu beliau bersabda : beritahulah kepadanya (perawi) berkata, maka orang (yang berada di sisi Nabi S.A.W) itu mengejarnya lalu berkata, “Aku Mencintaimu Kerana Allah” orang itu menjawab, “semoga yang kerananya engkau mencintaiku (aku) akan mencintaimu” [ Hr Abu Daud Hasan ]

Syarahan Hadith :

Setiap ungkapan yang baik kerana Allah S.W.T ia akan menperolehi pahala dengan apa yang dilakukan. maka mengucap kasih sayang hanya kerana Allah S.W.T adalah satu amalan yang mulia di sisi Islam dan ia mengukuhkan lagi iman seseorang itu hanya kerana Allah S.W.T. Dalam hadith lain yang mana diriwayatkan,

Daripada Anas bin Malik RA beliau berkata Nabi S.A.W bersabda : seseorang tidak akan dapat manisnya iman sehingga dia mencintai seseorang dan dia tidak mencintainya kecuali hanya kerana Allah S.W.T dan hingga dia dicampakkan ke dalam api neraka lebih dia cinta daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah S.W.T menyelamatkannya darinya dan hingga Allah dan Rasul-Nya lebih dia sukai daripada selain keduanya, [ Hr Bukhari ]

Syarahan Hadith :

Sesuatu amalan hendaklah hanya kerana Allah S.W.T dan hadith ini menunjukan kemanisan iman seseorang itu dapat dicapai dengan mencintai seseorang itu hanya kerana Allah S.W.T maka ia termasuk orang yang memperolehi kemanisan iman. Oleh yang demikian itu, kecintaan seseorang itu hendaklah lebih daripada segalanya terhadap Allah dan Rasul-Nya ini kerana hidayah (petunjuk) hanya datang daripada Allah S.W.T dan melalui Rasul-Nya segala perintah yang maha Isa, walaupun seseorang itu diuji dengan dahsyat dia tetap beriman hanya kerana Allah S.W.T dan kerana ialah yang maha memberi taufiq dan hidayah. Yang mana firman Allah S.W.T,

Maksudnya :

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, [ Surah Ali-Imraan : 31 ]

Syarahan Ayat :

Bukti mencintai Allah S.W.T adalah dengan mengikuti Rasul-Nya, adapun Al-Hasan Al-Bashri serta beberapa ulama Salaf mengatakan : Ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah. Lalu Allah menguji mereka melalui ayat ini yang mana firman Allah S.W.T “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mengasihimu” Jesteru, mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah perkara yang utama lalu mencintai sesama saudara kerana Allah S.W.T dan tidaklah mencintai seseorang itu berlebihan ini kerana yang lebih berhak itu hanyalah kepada Allah dan Rasul-Nya dan orang yang mencintai Rasul itu adalah orang yang beriman. Yang mana diriwayatkan,
Daripada Ali RA beliau berkata Nabi S.A.W yang ummi (buta huruf) mengamanatkan kepadaku sebuah janji. Bahawa tidak ada orang yang mencintaiku kecuali orang beriman dan tidak ada yang membencihiku kecuali orang munafiq, [ Hr Ibnu Majah Sahih ]

Syarahan Hadith :

Tanda keimanan seseorang hamba itu terdiri daripada kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Justeru, orang yang tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah terdiri daripada orang-orang munafiq melainkan orang yang beriman ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka kecintaan yang yang sebenar itu hanyalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu Allah S.W.T membekalkan kepada hambanya fitrah berkasih sayang sesama insan. Maka insan mencintai satu sama lain hanya kerana Allah S.W.T dan Allah mengadili setiap sesuatu. Dalam hadith lain,

Daripada Abu Muslim Al-khaulani, Mu’az bin Jabal menceritakan kepadaku. Ia berkata : Aku mendengar Rasulullah S.A.W bersabda : Allah S.W.T berfirman, Orang-orang yang saling mencintai dalam keagunganku bagi mereka mimbar daripada cahaya. Kedudukan mereka seperti yang di inginkan para Nabi dan Syuhada, [ Hr At-Tarmizi Sahih ]

Syarahan Hadith :

Mencintai seseorang kerana Allah S.W.T termasuk golongan orang yang dinaungi oleh Allah S.W.T. yang mana diriwayatkan,

Daripada Abi Hurairah atau Abi Sa’id bahawa Rasulullah S.A.W bersabda : Ada tujuh golongan yang Allah S.W.T akan berikan naungan-Nya kepada mereka. Di mana pada hari itu tidak ada naungan lain selain naungan darinya. Iaitu, seorang pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan sentiasa beribadah kepada Allah S.W.T, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid ketika keluar dari masjid hingga ia kembali masuk ke dalam masjid itu, dua orang yang mencintai kerana Allah S.W.T, seseorang yang berzikir kepada Allah S.W.T dengan menyendiri sehingga air matanya menitis dan seseorang yang dirayu oleh seorang wanita yang terhormat (memiliki kedudukan) dan cantik (untuk berbuat zina) namun ia berkata, Aku takut kepada Allah S.W.T dan seseorang yang bersedekah secara diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya, [ Hr At-Tarmizi Sahih ]

Syarahan Hadith :

Insan yang saling mencintai kerana Allah S.W.T mereka adalah tergolong dalam naungan Allah S.W.T seperti mana dalam hadith ini mereka terdiri daripada tujuh golongan yang berada dalam naungan Allah S.W.T pada hari akhirat dan tidak ada naungan lagi melainkan naungan Allah S.W.T

[ Cinta Dan Hikmah ]

Daripada Abi Hurairah RA menurutku Abi Hurairah meriwayatkan hadith secara marfu’ kepada Rasulullah S.A.W ia (Abi Hurairah RA) berkata : Cintailah kekasihmu sekadarnya sahaja (sebab) boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang engkau benci dan bencilah orang yang engkau benci sekadarnya sahaja (sebab) boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang engkau cintai, [ Hr At-Tarmizi Kata Syeikh Al-Albani : Sahih Ghayah Al-Maram : 872 ]

Syarahan Hadith :

Mencintai seseorang itu adalah fitrah yang ada pada diri Insan dan Allah S.W.T tidak suka kepada perkara yang berlebihan maka dalam hadith ini menunjukan hak untuk mencintai itu ada tetapi yang lebih berhak itu diutamakan seperti mencintai Allah dan Rasulnya. oleh sebab itu, cintailah seseorang itu sekadarnya kerana yang lebih berhak ialah mencintai Allah dan Rasul-Nya. Justeru, berlebihan kepada yang tidak berhak kemungkinan ia akan menjadi musuhmu dan bencilah musuhmu atau orang yang dibenci itu sekadarnya kerana kemungkinan ia boleh menjadi kekasihmu. Sekiranya seseorang lelaki itu mencintai seorang wanita. Maka yang berhak dia cintai ialah isterinya. Seperti mana yang diriwayatkan,
Daripada Ibnu Abbas beliau berkata : Rasulullah S.A.W bersabda : Tidak pernah terlihat dua orang yang saling mencintai seperti (melainkan) pernikahan (suami isteri), [ Hr Ibnu Majah Sahih ]

Syarahan Hadith :

Hadith ini bermaksud lelaki dan wanita yang saling mencintai ialah hak mereka ketika selepas menikah manakala mencintai sesama saudara ialah sekadar kerana yang lebih berhak dicintai ialah Allah dan Rasul-Nya. Maka dalam bab ini Islam adil buat fitrah manusia mengenai cinta dan Allah S.W.T anugerahkan cinta yang sedikit itu agar manusia mencapai kemaslahatan berkasih sayang. Kata Imam Al-Qurtubi : Allah S.W.T mengetahui bermacam-macam nikmat yang Dia berikan kepada ciptaanNya sebanyak seratus jenis. Lalu dia melimpahkan kepada mereka di dunia ini satu jenis daripada kasih sayang itu, dan dengan kasih sayang ini tercapailah kemaslahatan hidup. Hal inilah yang diisyaratkan FirmanNya : dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman, [ Surah Al-Ahzab : 43 ]

Allah S.W.T berfirman :

Maksudnya :

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu) bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (syurga), [ Surah An-Nur : 26 ]

Syarahan Ayat :

Ibni Abbas RA berkata, Maksud ayat di atas ialah perkataan keji hanya mungkin keluar dari orang-orang yang keji dan hanya lelaki yang kejilah yang wajar dituduh dengan perkataan yang keji. Demikian pula, perkataan yang baik akan keluar dari orang-orang yang baik hanya orang-orang yang baiklah yang wajar dialamatkan kepada mereka perkataan yang baik. Ayat ini turun berkaitan dengan Aisyah RA dan orang-orang yang menyebarkan (munafiq) berita bohong tentang dirinya dan Allah S.W.T membebaskan Aisyah RA daripada fitnah itu. Seperti mana Firman Allah S.W.T :

Maksudnya :

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahawa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyebaran berita bohong itu baginya azab yang besar, [ Surah An-Nur : 11 ]

Syarahan Ayat :

Gelombang fitnah ini disebarkan oleh Abdullah bin Ubai bin Salul. Dialah yang menyebarkan fitnah tentang Aisyah RA dan Shafwan bin Al-Mu’athathal As-Sulami Az-zakwani. Tetapi Allah S.W.T membebaskan fitnah itu dengan turunya ayat seperti di atas. والله تعالى اعلم

والله الحمد

Ahad, 18 Julai 2010

Berbakti Kepada Kedua Ibu-Bapa

Firman Allah SWT : MaksudNya : Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapamu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. [ Al-Israak : 23 ] Syarahan Ayat : Ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada hambanya agar jangan sama sekali menyembah selain dari Allah SWT dan Allah SWT memerintahkan agar berbuat baik kepada kedua ibu bapa meraka dengan sebaik-baiknya. Ini kerena kedua ibu bapa sangat banyak jasanya kepada anak-anaknya. Maka Allah memerintahkan mentaati mereka. Oleh yang demikian Allah SWT menegaskan jangan sama sekali mengkasari mereka ketika mereka sudah lanjut usir baik dari segi percakapan mahupun perbuatan. Dan janganlah menggatakan kepada mereka walaupun perkataan “ Ah “ atau perbuatan yang tidak baik kepada mereka. Dalam ayat ini juga Allah memerintahkan supaya bercakap yang baik atau perbuatan yang mulia kepada meraka dengan semulia-mulianya. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman : Maksudnya : Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya. ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya (Dirinya) dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapamu, Hanya kepada-Kulah kembalimu. [ Luqman : 14 ] Syarahan Ayat : Ayat ini menerangkan ketika mana Luqman[1] menasihati anaknya agar jangan mensyirikan Allah SWT dengan sesuatu dan menyuruh anaknya berbakti kepada orang tua ( Kedua Ibu bapa ). Ini kerana jasa mereka yang mendidik dan menjaga anak-anak mereka. Dalam masa yang sama Ayat : وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ Bermaksud : Dalam keadaan penuh menderita ketika mengandungkan si anak, Oleh itu berbakti kepada Kedua Ibu Bapa adalah Wajib. Seperti mana Firman Allah SWT : [1] Luqman Bin Anqa Bin Sadun Mejoroti Ulama berpendapat bahawa beliau Bukan Nabi. Beliau Adalah seorang hamba yang soleh yang Taat beribadah bukan seorang Nabi dan beliau juga tukang Kayu, Kata Abdullah Bin Abbas : Luqman Al-Hakim adalah seorang hamba yang berbangsa Habsyi (Ethiopia) dan bertugas sebagai tukang kayu. Anak beliau bernama Tsaran [ Tafsir Ibnu Kahsir Surah Luqman. Ayat 11-14 ]، Maksudnya : Dan kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapanya. dan jika keduanya memaksa engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan engkau tentang itu, Maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Hanya kepadaku engkau kembali, lalu Aku khabarkan kepadamu apa yang Telah engkau kerjakan. [ Al-Angkabut : 8 ] Syarahan Ayat : Imam At-Termizi[1]. Meriwayatkan daripada Sa’ad Bin Waqqash RA ia berkata : Ada empat ayat dalam Al-Quran yang turun berkaitan dengan aku’ Lalu Sa’ad Bin Waqqash menceritakan tentang kisahnya. Ia berkata : ‘Ibuku berkata, Tidaklah Allah SWT memerintahkan engkau untuk berbakti kepada orang tua? Demi Allah aku tidak mahu makan walaupun sesuap dan aku tidak mahu minum walaupun seteguk meskipun aku mati. Kecuali engkau (Sa’ad Bin Waqqash) kembali Kufur, Sa’ad berkata : Setelah itu bila keluarganya hendak memberi ibunya makan. Ia harus membuka mulutnya secara paksa. Kemudian turunlah Ayat ini : [1] الإمام أبي عيسى محمد بن عيسى بن سورة الترمذي ( 209-297هـــ ) Dan kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapanya. dan jika keduanya memaksa engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan engkau tentang itu, Maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Hanya kepadaku engkau kembali, lalu Aku khabarkan kepadamu apa yang Telah engkau kerjakan.
[أخرجه الترمذي رقم الحديث : 3189 حسن صحيح. قال الشيخ الألباني : صحيح ] Ayat ini turun kerana Ibu Sa’ad Bin Waqqash bersumpah tidak mahu makan dan minum kerana anaknya ( Sa’ad Bin Waqqassh ) memeluk Islam. Lalu ia berkata : bukanlah Allah SWT memerintahkan engkau untuk berbakti kepada orang tua? Dan ibunya memerintahkan Sa’ad Bin Waqqash agar tinggalkan Islam dan kembali Kufur. Maka turun ayat tersebut mewajibkan seseorang itu berbakti kepada orang tua walaupun orang tuanya Kafir sehingga mana orang tuanya tidak menyuruh melakukan perbuatan Syirik kepada Allah SWT dengan sesuatu. Maka ia tidak Wajib diikuti. Kata Ibnu Hajar Al-Asqalani : Saya tidak temu dalam satu riwayatpun keterangan bahawa ia ( Ibu Sa’ad Bin Waqqash ) memeluk Islam, عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالُوا :يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ? قَالَ: أُمَّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ? قَالَ أُمَّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ? قَا أَبَاكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ? قَالَ الْأَدْنَى فَالْأَدْنَى،
Daripada Abi Hurairah RA beliau berkata : Mereka ( Para Sahabat ) bertanya “ Wahai Rasulullah SAW, sipakah orang ( Yang Layak ) aku berbakti? Beliau menjawab : Ibumu, kemudian ia bertanya lagi, Lalu siapa? Beliau menjawab : Ibumu, ia bertanya lagi. Lalu siapa? Beliau menjawab : Bapamu, ia bertanya lagi. Lalu siapa? Beliau menjawab : orang yang lebih bawah dan seterusnya”, [أخرجه ابن ماجه رقم الحديث :3725، قال الشيخ الألباني : صحيح] Syarahan Hadis : Ibu adalah yang utama yang perlu ditaati oleh anak-anak. Ini kerana jasa ibu kepada anak sangat besar, maka Nabi SAW menyebut berulang-ulang bahawa yang layak ditaati adalah ibu kemudian setelah itu baru bapa dan yang seterusnya. Dalam Hadis lain Nabi SAW bersabda : عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ، Daripada Abdullah Bin Amru daripada Nabi SAW bahawa beliau bersabda : Redha Allah SWT dalam ( bergantung kepada ) Redha kedua ibu bapa. Dan murka Allah SWT itu dalam murka kedua ibu bapa, [أخرجه الترمذي رقم الحديث : 1899 ، قال الشيخ الألباني : صحيح] Syarahan Hadis : Mentaati kedua ibu bapa adalah kewajipan terhadap anak ini kerana mereka sangat berjasa kepada anak tersebut dan Allah SWT akan meredhai apa yang dilakukan oleh seseorang itu sekiranya kedua ibu bapa mereka meredhai. Dalam masa yang sama Allah SWT juga murka kepada seseorang itu apabila kedua ibu bapanya murka terhadapnya. Oleh yang demikian mentaati dan memohon keredhaan kedua ibu bapa perlu agar Allah SWT meredhai apa yang dilakukan baik daripada segi pengajian mahupun dalam urusan kejayaan dan masa depan seseorang itu. Dalam hadis lain Nabi SAW bersabda : عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِ يكَرِبَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ثَلَاثًا إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِالْأَقْرَبِ فَالْأَقْرَبِ،
Daripada Mikdam Bin Ma’dikarib bahawa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT mewasiatkan kelian untuk berbakti kepada ibu-ibu kalian ( beliau mengucapkannya tiga kali ) Sesungguhnya Allah SWT mewasiatkan kepada kalian untuk berbakti kepada bapa-bapa kalian. Sesungguhnya Allah SWT mewasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat kalian. ( lalu kepada kerabat ) yang lebih dekat.
[ أخرجه ابن ماجه رقم الحديث : 3728 ، قال الشيخ الألباني : صحيح] Syarahan Hadis : Allah SWT mewasiatkan kepada hambanya agar mentaati ibu dan bapa mereka. Ini adalah kewajipan buat seorang anak terhadap kedua ibu bapa mereka kerana merekalah yang berhak ditaati dan dihormati dan Allah SWT juga memerintahkan supaya berbuat baik kepada kerabat serta saudara yang lain dan kerabat saudara yang lebih dekat. Dan menderhaka kepada kedua Ibu bapa Adalah Dosa Besar. والله أعلم

Ahad, 11 Julai 2010

Akhlak Menurut Perspektif Al-Quran & As-Sunnah

Firman Allah SWT : Dan Engkaulah (Muhammad SAW) yang mempunyai Akhlak yang mulia, [سورة القلم الآية : 4 ] Keterangan Ayat : Allah SWT menganugerahkan Akhlak yang paling mulia dari kalangan makhluknya adalah Nabi Muhammad SAW, yang mana dalam ayat tersebut membuktikan bahawa Nabi SAW ialah orang yang paling mulia Akhlaknya, Sabda Rasulullah SAW : [إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مِنْ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ, [أخرجه المالك في الموطأ ( 1615 ) إسناده صحيح،
Sesungguhnya Aku Diutuskan oleh Allah SWT tidak lain adalah untuk menyempurnakan Akhlak yang soleh, Keterangan Hadis : Allah SWT mengutuskan Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan Akhlak yang soleh. Ini kerana Nabi-nabi yang terdahulu diutuskan untuk kaum-kaum mereka dan mengajarkan kepada mereka tentang Islam. Maka sebagai penamatnya. Allah SWT mengutuskan Rasul yang terakhir iaitu Muhammad SAW untuk menyempurnakan segala perintahNya. Sebahagian darinya adalah untuk menyempurnakan Akhlak yang soleh dan mulia. Firman Allah SWT : Adalah Bagi kamu wahai hambaku. Pada diri Muhammad SAW adalah ikutan contoh yang baik, [سورة الأحزاب، الآية : 21,] Keterangan Ayat : Diriwayatkan ada seorang sahabat datang menemui Ummul Mukminin Aisyah RA. dan bertanya kepada Aisyah, wahai Aisyah! Khabarkan padaku tentang Akhlak Rasulullah SAW. Lalu jawab Aisyah. Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran. yang mana baginda redha kerana Al-Quran dan baginda murka kerana Al-Quran murka. Dalam hadis ini menerangkan bahawa Akhlak Nabi itu adalah Al-Quran dan Nabi menegaskan sekiranya Al-Quran murka. Maka Nabi juga akan murka. Sebab itu Nabi SAW bersabda : كَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسَوْلَ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْه وَسَلَّم يَقُوْلُ : [مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ. وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ [ أخرجه المسلم ( 6113 ) حديث صحيح
Abu Hurairah menceritakan bahawasanya beliau mendengar Rasulullah SAW berkata : Apabila aku melarang kamu daripada sesuatu perkara. Maka segeralah jauhkan diri daripada perkara tersebut. Dan apabila aku menyuruh kamu melakukan sesuatu. Maka lakukanlah dengan kemampuanmu. Keterangan Hadis : Dalam hadis ini Rasululah SAW menerangkan bahawa Islam itu bukan agama yang susah. Islam adalah agama yang tidak membebankan. Malahan Islam amat sederhana dalam semua perkara. Segala perintah Allah SWT tidak membebankan hambanya. Maka laksanakanlah dengan mengikut kemampuan. Ini kerana, manusia di jadikan dalam keadaan yang lemah. Dalam Hadis lain: Daripada Aisyah RA. beliau berkata. Sabda Rasulullah SAW: يأَيُّهَاالنَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيْقُوْنَ فإِنَّ اللهَ لَا يَمَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا,وَإِنَّ [أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَادُوِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ,[أخرجه المسلم ( 1827 ) حديث صحيح
Wahai manusia. Lakukanlah mengikut kemampuanmu. Sesungguhnya Allah tidak pernah jemu menerima segala amalanmu. sehingga kamu sendiri merasa jemu. Sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah SWT adalah amalan yang berterusan walaupun amalan tersebut sedikit. Keterangan Hadis : Allah SWT tidak membebankan hambanya dengan apa yang tidak mampu dilakukan oleh mereka malahan segala amalan yang di perintahkanya adalah mudah. Allah SWT juga tidak pernah jemu menerima segala amalan dari hambanya termasuklah taubat hambanya, sehingga hambanya sendiri yang merasa jemu. Namun begitu amalan yang paling di sukai oleh Allah SWT adalah amalan yang berterusan (istiqamah) walaupun amalan tersebut sedikit. Hal-hal ini membuktikan bahawa agama yang paling sempurna dan agama yang diredhai Allah SWT adalah Islam. Firman Allah SWT : Maksudnya : Pada hari ini telah di sempurnakan Agama kamu dan telah disempurnakan bagi kamu nikmat dari Allah SWT, dan Agama yang diredhai Allah SWT adalah Islam . [سورة المائدة، الآية : 3] Keterangan Ayat : Allah SWT mengutuskan Rasulnya untuk menyempurnakan Agamanya dengan menyampaikan segala perintahNya seperti Tauhid kepada Allah SWT dengan tidak mensyirikkan Allah SWT dengan sesuatu dan memberi huraian tentang Syariah Islamiah serta menyempurnakan Akhlak yang soleh. Hal ini membuktikan bahawa agama Islam sudah lengkap lagi sempurna dan islamlah agama yang diterima di sisi Allah SWT, Nabi SAW tidak pernah melakukan perbuatan yang keji mahupun amalan yang tidak disukai. Yang mana diriwayatkan : عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : لَمْ يَكُنِ النّبيُّ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فَاحِشًا، وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَكَانَ يَقُوْلُ : إِنَّ مِنْ خِيَارُكُمْ أَحْسَنَكُمْ [أَخْلَاقًا[ أخرجه البخاري ( 3559 ) حديث صحيح
Daripada Abdullah Bin Omar Bin Al-Asy RA Telah Berkata : Nabi SAW Tidak pernah melakukan perkara yang keji atau amalan yang buruk, Dan Nabi tidak pernah memburukan orang lain. Dan Nabi bersabda : Sesungguhnya orang yang paling baik dikalangan kamu semua adalah orang yang paling baik Akhlaknya, Keterangan Hadis : Allah SWT sentiasa memelihara Nabi dari segala kekejian mahupun keburukan. Disebabkan itu, nabi tidak pernah melakukan perkara yang keji. Nabi SAW bersabda pada umatnya bahawa orang yang paling baik di kalangan umatnya adalah orang yang paling baik akhlaknya, Dalam Hadis lain :
عَنْ أَبِي إِسَحَاق قَالَ : سَمِعْتُ البَرَاءَ يَقُوْلُ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا، وَأَحْسَنَهُ خُلُقًا, [أخرجه البخاري ( 3549 ) حديث صحيح]
Daripada Abi Ishak beliau berkata : aku mendengar Al-baraa RA berkata : Adalah wajah Rasullah SAW itu paling cantik di kalangan manusia. Dan Rasulullah SAW orang yang paling baik Akhlaknya dikalangan mereka, Keterangan Hadis : Dalam Hadis ini membuktikan bahawa Nabi SAW adalah orang yang sangat baik di kalangan manusia. Dan Nabi SAW jugalah adalah orang yang paling baik akhlaknya dikalangan manusia. Nabi SAW mempunyai Akhlak yang baik dan mulia kerana ianya anugerah daripada Allah SWT kepada Baginda dan Nabi SAW berdoa kepada Allah SWT dengan Doanya : عِنِ ابْنَ مَسْعُوْدِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ كاَنَ يَقُوْلَ : الَلّهُمَّ أَحَسَنْتَ خَلْقِيْ فَحَسِّنْ خُلُقِى, [أخرجه ابن حبان ( 955 ) حديث صحيح، قال شعيب الأرنؤوط : حديث صحيح بشاهده] Daripada Ibnu Masud RA bahawasanya Rasulullah SAW berdoa : Ya Allah engkau telah jadikanku dengan sebaik-baik ciptaan. Maka percantikanlah Akhlaku, Keterangan Hadis : Nabi SAW berdoa kepada Allah SWT agar sentiasa dipelihara akhlaknya daripada segala keburukan. Baginda amat malu apabila melihat kemungkaran dan keburukan yang dilarang oleh Allah SWT. Yang mana diriwayatkan : [مِنْ حَدِيْث ابْن عَبَاس " لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقٌ، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ", [أخرجه المالك في الموطأ ( 1616 ) مرسل عند مالك،
Daripada Hadis Ibnu Abbas “ Sesungguhnya Setiap Agama itu ada Akhlaknya. Dan sesungguhnya Akhlak bagi Agama Islam adalah sifat malu. Keterangan Hadis : Setiap agama ada akhlakanya. Islam akhlaknya adalah malu. Kerana malu itu akan mendatangkan kebaikan. Sabda Rasulullah SAW : عَنْ أَبِيْ السَّوَّارِ العَدَوِيّ قَالَ: سَمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قَالَ : قَالَ النَّبيّ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : الْحَيَاءُ لَا يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْر,[ أخرجه البخاري ( 6117 ) حديث صحيح]
Daripada Abi Sauwar Al-Adawi beliau berkata : aku mendengar Imran Bin Husain beliau berkata : Sabda Rasulullah SAW : Malu itu tidak akan datang melainkan kebaikan . Keterangan Hadis : Dalam hadis ini Nabi SAW mengajar kepada umatnya tentang akhlak Islam. Ini kerana sifat malu itu mendatangkan kebaikan. Dalam masa yang sama malu itu sebahagian daripada iman, Sabda Rasulullah SAW : عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ قَالَ : سَمِعَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّم قَالَ: "الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيْمَانِ" [أخرجه المسلم ( 154 ) حديث صحيح ]
Daripada Zuhri Daripada Salim Daripada ayahandanya Bahawasanya dia telah berkata. Dia telah mendengar Nabi SAW bersabda : Malu itu sebahagian daripada Iman, Keterangan Hadis : Hadis ini menerangkan bahawa sifat malu adalah sebahagian daripada Iman. Hal Ini membuktikan bahawa Islam itu amat mementingkan sifat malu seperti Hadis sebelum ini. Nabi SAW menyebut akhlak Islam itu adalah malu dan Nabi SAW apabila melihat kemungkaran, baginda akan menjadi manusia yang paling malu seperti yang diriwayatkan : عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الخُدْرِيّ قاَلَ : كَانَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاء فِيْ خِدْرِهَا، فَإِذَا رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ عَرَفْنَاهُ فِيْ وَجهِهِ ,[ أخرجه البخاري ( 6102 ) حديث صحيح] Daripada Abi said Al-Khudri telah berkata : Adalah Rasulullah SAW itu orangnya sangat pemalu dan malu Nabi SAW lebih daripada seorang gadis yang pemalu. Apabila beliau ( Nabi SAW ) melihat sesuatu kemungkaran. kami sahabat-sahabatnya tahu perubahan reaksi pada wajah beliau. ( Iaitu beliau malu dengan kemungkaran tersebut ), Keterangan Hadis : Hadis-hadis ini menerangkan sifat Nabi SAW Iaitu beliau sangat malu kepada Allah SWT apabila melihat kemungkaran dan larangan Allah SWT dilanggar dan tidak dipatuhi. Hal ini membuktikan kekuatan iman Nabi terhadap semua perintah yang maha Agung. Nabi sangat teliti melakukan sesuatu perkara, agar setiap perbuatan Nabi SAW itu tidak dilihat sebagai sesuatu amalan yang buruk. Nabi SAW sentiasa dipelihara oleh Allah SWT sesuai sebagai seorang utusanya, Seperti yang diriwayatkan : عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوْعًا : مَا كَانَ الْفحْشُ فِيْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ، وَمَاكَانَ الْحَيَاءُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ ، [أخرجه الترمذي ( 1974 ) حديث حسن غريب لا نعرف إلا من حديث عبد الرّزّاق, قال الشيخ الألباني : صحيح ]
Daripada Anas RA Marfuk : Tidaklah Rasulullah SAW itu berkelakuan buruk pada sesuatu perkara. Melainkan Nabi SAW itu baik kelakuanya, Dan tidaklah datang malu itu Pada sesuatu. Melainkan keburukanya ( Zina , Maksiat ). Keterangan Hadis : Nabi SAW adalah utusan Allah SWT yang terakhir. dan baginda adalah ketua segala pemimpin dalam Islam. Oleh itu, Nabi SAW dikurniakan kemuliaan Akhlak yang begitu tinggi. dan Nabi SAW- sendiri mempunyai sifat malu apabila melihat sesuatu kemungkaran. Ini membuktikan nabi SAW mempunyai iman yang begitu kukuh terhadap Allah SWT, dalam masa yang sama nabi SAW juga dikurniakan Adab dan Akhlak yang begitu mulia di sisi Allah SWT mahupun dikalangan Sahabat-sahabat baginda. Nabi SAW tidak pernah melakukan sesuatu perkara yang buruk. malahan tidak pernah memburukkan orang lain. Ini kerana akhlak nabi SAW sangat baik dan terpelihara. Oleh yang demikian. Akhlak yang baik dan adab yang tinggi adalah sifat malu. Seperti mana yang disebut oleh Abi Abdillah di dalam kitabnya: رَأْسٌ مَكَارِمُ الْأَخْلَاق الْحَيَاء , [الإمام الفقيه المحدّث أبي عبد الله محمد بن مفلح المقدسيّ، الآداب الشّرعية، ج 2، باب مدح الحياء وكونه خلق الإسلام، ص 220، ط2 ( مؤسسة الرّسالة-بيروت),]
Setinggi-tinggi kemuliaan Akhlak adalah malu. Orang yang mempunyai akhlak yang mulia nescaya akan memiliki sifat malu pada dirinya. Ini kerana sebahagian daripada Iman adalah sifat malu. Kesempurnaan Iman itu adalah orang yang paling baik akhlaknya. Akhlak yang mulia dan malu itu mempunyai hubungan diantara satu sama lain, seperti yang diriwayatkan : عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِيْن إِيْمَانًا أَحْسَنَهُمْ خُلُقًا، [أخرجه أبو داود ( 4682 ) هذا الحديث صحيح على شرطه, قال الشيخ الألباني : حسن صحيح] Daripada Abi Hurairah RA beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda : Sempurna Iman orang-orang mukmin itu adalah mereka yang paling baik Akhlaknya, Keterangan hadis : Akhlak yang mulia dan sifat mahmudah itu sangat dituntut oleh Islam. Ini kerana sempurna Iman itu adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang baik akhlaknya, mempunyai banyak kelebihan. Di antaranya Nabi SAW bersabda : عَنْ عَائِشَة رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُوْلُ: إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ الْخُلُقِهِ دَرْجَةَ الصَّائِمِ وَالْقَائِمِ,][أخرجه أبي داود ( 4798 ) حديث صحيح على شرطه، قال الشيخ الألباني : صحيح ]
Daripada Aisyah RA telah berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya orang mukmin yang baik Akhlaknya. Dia memperolehi pahala sama dengan pahala puasa dan pahala mendirikan solat ، Keterangan Hadis : Hadis ini menerangkan kelebihan bagi orang yang mempunyai Akhlak yang baik. Dan Akhlak yang baik akan memperolehi pahala sama dengan orang yang mendirikan solat pada malam hari dan pahala berpuasa pada siang hari, kelebihan orang yang mempunyai Akhlak yang baik begitu banyak sama sekali. Dalam Hadis lain : عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : مَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ بُنِيَ لَهُ فيْ أَعْلَاهَا , [أخرجه الترمذي ( 1993 ) حديث حسن، و في اعلاها بمعنى جنّة الأعلى. قال الشيخ الألباني : ضعيف بهذا اللفظ]
Daripada Anas bin Malik beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang mencantikan Akhlaknya. Maka disediakan baginya Syurga yang paling tinggi. Keterangan Hadis : Hadis ini menceritakan kelebihan mereka yang memiliki akhlak yang mulia. Bagi orang yang berusaha untuk mencantikkan akhlaknya, maka baginya Syurga yang paling tinggi. Hal ini adalah kelebihan yang Allah SWT berikan kepada orang yang menghiasi akhlaknya. Maka orang tersebut baginya Syurga yang paling tinggi. Dalam hadis lain lagi, Nabi SAW bersabda: عَنْ جَابِرٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ : إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنيِّ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا، [أخرجه الترمذي ( 2018 ) حديث حسن غريب من هذا الوجه, قال الشيخ الألباني : صحيح]
Daripada Jabir RA : bahawa Rasulullah SAW Bersabda : Sesungguhnya orang yang paling aku kasihi dikalangan kamu pada diriku. Dan orang yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari Kiamat. adalah orang yang paling baik Akhlaknya dikalangan kamu. Keterangan Hadis : Hadis ini menceritakan bahawa orang yang berada dekat dengan Nabi SAW pada hari Kiamat dan orang yang paling Nabi SAW kasihi adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik. Kelebihan orang yang mempunyai Akhlak yang baik, begitu tinggi di sisi Baginda SAW. Oleh hal itu Nabi SAW bersabda : عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ : مَامِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقِ حَسَنِ، فَإِنَّ اللهَ تَعاَلىَ لَيُبْغِضُ اْلفَاحِشَ الْبَذِيءَ, [ أخرجه الترمذي ( 2002 ) حديث حسن صحيح, قال الشيخ الألباني : صحيح]
Daripada Abi Dar’da Bahawa Nabi SAW Bersabda : Tidak ada sesuatu yang paling berat dalam timbangan pada Hari kiamat melainkan orang yang mempunyai Akhlak yang baik. Maka sesungguhnya Allah SWT tidak suka kepada orang yang keji dan berkata-kata keji, Keterangan Hadis : Hadis ini menceritakan bahawa pada hari kiamat nanti tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan, melainkan orang yang mempunyai akhlak yang baik. Oleh itu dalam hadis lain Nabi SAW bersabda : عَنْ أَبِي هُرَيْرَة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ عَنْ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ، قَالَ : تَقْوَى الله وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَر مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ، قَالَ : الْفَمُ وَالْفَرْجِ، [أخرجه الترمذي ( 2004 ) حديث صحيح غريب، قال الشيخ الألباني : حسن الإسناد] Daripada Abi Hurairah RA telah berkata : Di tanya pada Rasulullah SAW tentang mengapa ramai manusia yang masuk Syurga. Nabi menjawab : Bertaqwa kepada Allah SWT dan orang yang baik Akhlaknya, Dan ditanya juga tentang mengapa ramai manusia yang masuk neraka. Nabi menjawab : Mulut. Dan kemaluan. Keterangan Hadis : Abi Hurairah RA. menceritakan bahawa pernah ditanya pada Nabi SAW tentang mengapa dikalangan manusia itu banyak dimasukkan ke Syurga. dan mengapa ramai dikalangan manusia dimasuk ke neraka. Dalam persoalan ini, Nabi SAW menjawab. bahawa ramai di kalangan manusia itu masuk ke Syurga kerana Taqwa dan Akhlaknya yang baik, manakala ramai yang masuk Neraka disebabkan oleh mulutnya, yang berkata keji seperti mengumpat dan sebagainya. Serta disebabkan tidak memelihara maruahnya seperti berzina. Islam melarang semua itu untuk memelihara maruah nasab dan agamanya bagi orang yang mempunyai akal fikiran, Sabda Nabi SAW : عَنْ أَبِي هُرَيْرَة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ : كَرَمَ اْلمُؤْمِن دِيْنُهُ، وَمَرُوْءَتُهُ عَقْلَهُ، وَحَسْبَهُ خُلُقَهُ ،
[أخرجه الحاكم في مستدرك ( 2/163 ) ص 177 ج 2، رقم الحديث : 2691/20 هذا حديث صحيح على شرط مسلم و لم يخرجاه تعليق الذهبي قي التلخيص : الزنجي ضعيف] Daripada Abi hurairah RA bahawa Rasulullah SAW bersabda : Kemulian seseorang mukmin itu adalah Agamanya, dan maruahnya itu akalnya, dan nasabnya adalah Akhlaknya Keterangan Hadis : Hadis ini menceritakan tentang seorang mukmin yang mulia di sisi Allah SWT, Kemulian bagi mukmin itu adalah kerana Agamanya. Seseorang itu perlu memelihara agamanya, dan bertanggungjawab untuk memelihara maruahnya dan menjaga akalnya. Dan nasab keturunan bagi seorang mukmin itu adalah Akhlak. Oleh itu memelihara Akhlak sangat dituntut dalam Islam. Hal Ini kerana islam menuntut agar setiap hambanya sentiasa memelihara dan memuliakan akhlaknya. Orang yang tidak memelihara Akhlaknya, adalah umpama orang yang memburukkan agamanya. Orang yang memburukkan atau menampilkan akhlak yang tidak baik adalah bukan daripada kalangan orang Islam. Sabda Nabi SAW : عَنْ جَابِر بْنَ سَمْرَة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَنْتُ فِي مَجْلِس فِيْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَسَمْرَة، وَأَبُوْ أُمَامَة، فَقَالَ : إِنَّ الْفَحْشَ وَالتَّفَاحُشَ لَيْسَا مِنَ اْلإِسْلَامِ فِي شَيْءٍ، وَإِنَّ خَيْرَ النَّاسِ إِسْلَاماً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً ، [أخرجه أحمد حنبل في مسنده رقم الحديث : 20997 ( 5/99 ) إسناد أحمد جيد، ورواته ثقات، قال بن أبي شيبة في حديثه زكريا بن أبي يحيى عن عمران بن رياح تعليق شعيب الأرنؤوط : صحيح لغيره وهذا إسناد محتمل للتحسين ]
Daripada Jabir bin Samrah RA telah berkata : Aku pernah duduk bersama Nabi SAW dan Samrah dan Abu Umamah. Maka Sabda Rasulullah SAW : sesungguhnya keburukan dan kekejian itu bukan daripada Islam. Dan Sesungguhnya manusia yang paling baik adalah Islam dan yang paling baik dikalangan mereka adalah Akhlaknya. Keterangan Hadis : Islam merupakan Agama yang sangat mengambil berat tentang memelihara akhlak. Ini kerana Islam adalah Agama yang cantik dan Agama yang diterima oleh Allah SWT, orang yang memburukkan akhlaknya bukan dari kalangan orang Islam. Oleh itu Islam melarang menyerupai selain daripada Islam, seperti mana islam melarang daripada menyerupai orang Yahudi dan Nasrani. Firman Allah SWT: Maksudnya : Dan barang siapa yang mencari-cari selain daripada agama Islam. Maka tidak akan diterima oleh Allah SWT. Dan pada hari kiamat kelak mereka berada dalam keadaan yang rugi, [سورة الآل عمران، الآية : 85] Keterangan Ayat : Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahawa orang yang mencari selain daripada agama Islam. Maka ia tidak akan diterima oleh Allah SWT, kerana yang diredhai oleh Allah SWT adalah Islam. Pada masa yang sama Islam sudah lengkap dan sempurna, Barang siapa yang mencari selain daripada Islam, maka pada hari Akhirat mereka akan berada dalam keadaan yang sangat rugi. Ini kerana agama yang dicari selain daripada Islam itu tidak akan diterima oleh Allah SWT, Sabda Rasulullah SAW : حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ : حَدّثَنَا ابْنُ لَهِيْعَةَ عن عَمْرو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قاَلَ : لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهُ بِغَيْرِنَا لاَ تَشَبَّهُوا بِاْليَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى ، أخرجه الترمذي ( 2695 ) هذا الحديث إسناده ضعيف، وروى ابن المبارك هذا الحديث عن ابن لهيعة فلم يعرفه، قال الشيخ الألباني : حسن
Diceritakan kepada kami Khutaibah : menceritakan kepada kami Ibnu lihai’ah daripada Amru bin syu’ib. daripada ayahandanya. Daripada datuknya bahawa Rasulullah SAW bersabda : Bukan dari kalangan kami barang siapa yang menyerupai selain daripada kami. Jangan kamu menyerupai orang Yahudi dan jangan kamu menyerupai orang Nasrani, Keterangan Hadis : Dalam hadis ini Nabi SAW mengatakan bahawa bukan daripada kalangan orang Islam. Barang siapa yang menyerupai atau mengikuti selain daripada islam. Dan Nabi SAW melarang sama sekali kepada orang Islam daripada menyerupai sesuatu kaum yang lain daripada Islam, seperti Yahudi Nasrani. Ini kerana, pada hari kiamat orang yang menyerupai yahudi dan nasrani tersebut akan berada dalam keadaan yang amat rugi. Oleh Kerana itu, Nabi SAW melarang melakukan sedemikian rupa. Dalam Hadis lain : عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسَوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ , [أخرجه أبو داود ( 4030 ) حديث حسن، قال الشيخ الألباني : حسن صحيح
Daripada Ibnu Umar RA beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda: Sesiapa yang menyerupai sesuatu kaum itu. Maka Dia adalah sebahagian daripada mereka, Keterangan Hadis : Nabi SAW melarang Umatnya daripada menyerupai sesuatu kaum yang bukan Islam. Nabi SAW melarang yang sedemikian itu kerana mengikuti atau bertaqlid kepada sesuatu tanpa ilmu adalah dilarang dalam Islam. Firman Allah SWT : Maksudnya : Dan janganlah kamu mengikut-ikut. Yang mana kamu tidak memperolehi Ilmu tentangnya jangan kamu mengikutinya. Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati-hati ( Setiap Individu ) semua itu akan dipersoal oleh Allah SWT, [سورة الإسراء. الآية : 36،] Keterangan Ayat : Islam melarang mengikuti sesuatu perkara tanpa ilmu. ini kerana Islam bukan Agama yang bertaqlid. Allah SWT mengutuskan Rasul-nya ( Nabi Muhammad SAW ) untuk memberikan keterangan yang begitu terperinci tentang Islam. Oleh itu, tidak wajar umat Islam mengikuti sesuatu tanpa ilmu dan tidak wajar menyerupai selain daripada Islam. Semua itu dilarang sama sekali dalam Islam. Oleh yang demikian, Umat Islam sepatutnya mengetahui setiap yang diamalkan itu ada sumbernya. Iaitu sumber daripada Al-Quran & Sunnah, Sabda Nabi SAW : عَنْ مَالِك ، أَنَّهُ بَلَغَه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ : تَرَضْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّواْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابَ اللهِ وَالسُّنَةَ نَبِيِّهِ ، أخرجه المالك في الموطأ ( 1600 ) إسناده صحيح،
Daripada Malik RA, bahawasanya telah sampai kepadanya bahawa Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara. Selagi mana kamu berpegang teguh denganya. Nescaya kamu tidak akan sesat buat selama-lamanya. Iaitu Kitab Allah ( Al-Quran ) dan sunnahku, Keterangan Hadis : Nabi SAW menegaskan kepada umatnya mengenai dua perkara. Iaitu Al-Quran dan Sunnahnya. Nabi SAW menerangkan bahawa selagi mana umatnya berpegang teguh dengan Al-Quran dan Sunnahnya. Maka ia tidak akan sesat buat selama-lamanya. Allah SWT mengutuskan Nabi SAW yang terakhir. iaitu Muhammad SAW untuk menyampaikan Islam yang merangkumi aqidah tauhid yang Benar dan Syariah Islamiah serta Akhlak yang mulia. Oleh yang demikian, Nabi SAW memperingatkan kepada Sahabat-sahabatnya tentang akhlak di antara Manusia. yang mana Sabda rasulullah SAW : أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قَالَ : كَانَ آخِر مَا أَوْصَانِي بِهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ حَيْنَ وَضَعْتُ رِجْلِي فِي الْغَرْزِ أَنْ قَالَ : يَا مُعَاذ! أَحْسِنْ خُلُقَكَ لِلنَّاسِ يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ ، [ أخرجه المالك في الموطأ ( 1608 ) إسناده صحيح، لم أره في الكتب التسعة إلا في الموطأ,]
Daripada mu’az RA telah berkata : Adalah rsulullah SAW mewasiatkan padaku yang terakhir ketika mana aku telah meletakan kakiku di suatu tempat. dan Nabi bersabda : Wahai Mu’az! Percantikan akhlak kamu terhadab manusia wahai mu’az bin jabal, Keterangan Hadis : Rasulullah SAW orang yang paling baik Akhlaknya dan Rasulullah SAW memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya untuk memperindahkan akhlaknya terhadap saudaranya yang lain. Dalam hadis lain Nabi SAW bersabda : عَنْ أَبِيْ ذَرِّ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ، وَأَتْبَعِ السَّـيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقِ حَسَنٍ، أخرجه الترمذي ( 1987) حديث حسن صحيح، قال الشيخ الألباني : حسن
Daripada Abi Zhar RA telah berkata : Rasulullah SAW bersabda padaku : Bertaqwalah kamu kepada Allah SWT dimana kamu berada sekalipun. Dan ikutilah ( Ubahlah ) perkara yang buruk kepada perkara yang baik. Sesungguhnya Allah SWT yang menjadikan manusia dengan Akhlak yang baik. Keterangan Hadis : Ketaqwaan kepada Allah SWT adalah jalan utama yang nabi SAW sampaikan kepada umatnya. Ini kerana, orang yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang bertaqwa. Firman Allah SWT : Maksudnya : Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui setiap sesuatu berita. [سورة الحجرات، الآية : 13،] Keterangan Ayat : Sesungguhya Allah SWT tidak melihat kepada hambanya itu dengan pangkat keturunan atau bangsanya, tetapi Allah SWT melihat hatinya dan orang yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang bertaqwa kepadanya. Oleh yang demikian, Nabi SAW diutuskan oleh Allah SWT untuk menyempurnakan Akhlak yang mulia dan contoh kepada umatnya. Jelaslah bahawa kemuliaan Akhlak itulah yang dituntut oleh Allah SWT yang Maha Esa. Kecantikan dan kemuliaan Akhlak itu banyak kelebihanya. Sabda Rasulullah SAW : عَنْ رَافِع بْنِ مَكِيْثٍ، وَكَانَ مِمَّنْ شَهِدَ الْحُدَيْبِيَّةَ مَعَ النّبيّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم، أَنَّ النّبِيّ صَلّىَ الله عَليه وسلّم قَالَ : حُسْنُ اْللمَلَكَةِ يُمْنٌ، وَسُوْءُ الْخُلُقِ شُؤْمٌ، ]أخرجه أبي دأود ( 5162 ) إسناده ثقات، قال الشيخ الألباني : ضعيف
Daripada Rafikh bin maki’si. Beliau adalah salah seorang syuhada hudaibiayah RA bersama Rasulullah SAW. Bahawa Nabi SAW bersabda : Keindahan bakat (Akhlak) itu adalah satu kelebihan. Dan keburukan Akhlak itu adalah satu sifat keji. Keterangan Hadis : Orang yang mempunyai Akhlak yang mulia itu banyak kelebihanya. Diantaranya Syurga yang paling tinggi seperti yang telah disebut dalam Hadis yang lepas. Dalam hadis ini, Nabi SAW menegaskan bahawa orang yang baik Akhlaknya akan mendapat keuntungan. orang yang buruk Akhlaknya adalah keji. Mereka yang membuat kebaikan itu Allah SWT akan memanjangkan umurnya. manakala orang yang bersedekah itu, Allah SWT akan memeliharanya daripada mati di dalam keadaan yang tidak baik. Seperti mana yang diriwayatkan bahawa Nabi SAW berdoa : عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُوْلُ : اَللّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِيْ فَأَحْسِنْ خُلُقِي، أخرجه أحمد حنبل في مسند رقم الحديث : 24446، (68/6 ) ورواته ثقات، تعليق شعيب الأرنؤوط :حديث صحيح رجاله ثقات رجال الشيخين
Daripada Aisyah RA telah berkata : adalah rasulullah SAW berkata : Ya Allah! Sepertimana engkau telah percantikkan kejadianku. Maka percantikkanlah akhlakku. Dalam Hadis lain Nabi SAW berdoa : عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ كَانَ يَدْعُو يَقُوْلُ: الَلّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشِّقَاقِ،وَالنِّفَاقِ، وَسُوْءِ الْأَخْلَاقِ، أخرجه أبو دأود (1546) حديث ضعيف جدّا، هو بقيّة متفق ضعيفه. ومحمد ناصر الدّين الألباني ( ص 168 ) سلسلة الأحاديث الضعيف والموضوعة وأثر السّيء في الأمّة – مكتب الإسلامي بيروت, قال الشيخ الألباني : ضعيف Daripada Abi Hurairah RA bahawa Rasulullah SAW berdoa : Ya Allah! Aku mohon pelindungan padamu daripada permusuhan dan kepura-puraan ( Munafiq ), dan keburukkan Akhlak. Keterangan Hadis : Setiap ketentuan Allah SWT adalah hak mutlaknya. Oleh hal yang demikian, Nabi SAW sentiasa berdoa agar sentiasa dipelihara dari sifat bermusuhan di antara satu sama lain, Nabi SAW juga selalu berdoa kepada Allah SWT agar dilindungi dari sifat berpura-pura ( Munafiq ). Dan Nabi SAW berdoa agar dijauhkan dari sifat buruk- akhlak. Setiap kehendak Allah SWT pasti akan berlaku. firman Allah SWT : Maksudnya : Sesungguhnya apa sahaja yang Allah kehendaki. Maka ia hanya perlu sebut berlaku. Maka berlakulah kehendak tersebut, [سورة يس، الآية : 82،] Keterangan ayat : Setiap sesuatu adalah di bawah kekuasaan Allah SWT dan setiap sesuatu yang dikehendakinya adalah tertakluk kepada Allah SWT. Sekiranya Allah SWT menghendaki sesuatu. Ia hanya menyebut berlaku. Maka berlakulah apa yang di kehendaknya. Namun begitu Nabi SAW bersabda : عَنْ سَلْمَان قال: قال رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : لَا يَرُدُّ اْلقَضَاء إلِاَّ الدُّعَاء، وَلَا يَزِيْدُ فِي الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرّ , أخرجه الترمذي ( 2139 ) حديث حسن غريب, وأخرجه الحاكم في مستدرك ( 1/493 ) ص 670 ج 1، باللفظ "القدر" صحيح إسناده، قال الشيخ الألباني : حسن Daripada Salman Al-fa’risi RA telah berkata : Sabda Rasulullah SAW : Tidak boleh menolak kehendak Allah SWT melainkan dengan Doa dan tidak ditambahkan umur melainkan melakukan kebaikan, Keterangan Hadis : Dalam Hadis ini menghuraikan bahawa setiap kehendak Allah SWT tidak boleh ditolak oleh sesiapapun melainkan doa kepadanya. Oleh yang demikian, berdoa adalah ibadat yang sangat diberi perhatian oleh Allah SWT. Di dalam hadis ini juga menceritakan bahawa Allah SWT tidak akan menambah umur seseorang itu melainkan mereka yang ikhlas melakukan kebaikan. Kebaikan yang di maksudkan adalah sedekah dan merapatkan silaturahim seperti mana Sabda Rasulullah SAW : عَنْ أَنَسِ بْن مَالِك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُمَدَّلَهُ فِيْ عُمْرِهِ وَيُزَادُ فِيْ رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَاْليَصِل رَحِمَهُ , أخرجه أحمدحنبل في مسند رقم الحديث : 13812, ( 266/3 ) وروته محتج بهم في الصحيح، وهو في الصحيح باخنصار ذكر البرّ،
Daripada Anas bin Malik RA telah berkata : Sabda Rsulullah SAW : barang siapa yang mahukan umurnya dipanjangkan dan ditambahkan rezeki. Maka berbaktilah kepada kedua ibubapanya dan merapatkan silaturahim, Keterangan Hadis : Allah SWT tidak akan memanjangkan umur hambanya melainkan hambanya yang melakukan kebaikan, Iaitu merapatkan silaturahim di kalangan manusia. Allah SWT mempermudahkan rezeki kepada hambanya dengan kehendakNya. Iaitu hambanya yang berbakti kepada kedua ibubapa mereka dan merapatkan silaturahim di kalangan manusia. والله أعلم

Sabtu, 3 Julai 2010